Jack The Giant Killer

Jack The Giant Killer

Kamis, 07 Juni 2012

SOEGIJA ~ 100% INDONESIA 100% KATOLIK



"Jika para penduduk sudah merasa kenyang, biarlah Para Imam yang merasa kenyang paling akhir. Tetapi jika mereka merasa lapar, biarlah Para Imam yang pertama kali merasakan lapar."

"Ini adalah tempat suci. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dahulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya."

"Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka jika gagal untuk mendidik diri sendiri."

"Kemanusian itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-susul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan, dan cara hidupnya, semuanya merupakan satu keluarga besar,"

Ini adalah beberapa quote yang paling menyentuh dan berkesan yang disampaikan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. dalam film SOEGIJA karya Garin Nugroho. Dengan melibatkan 2.775 pemain dan 245 orang crew serta biaya produksi yang mencapai Rp 12 Miliar, SOEGIJA adalah film terbesar dan termahal yang pernah ditangani oleh sutradara yang juga membesut film Mata Tertutup dan Under The Tree ini.

Profil Singkat


Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ., atau lebih dikenal dengan Soegija. Lahir 25 November 1896 di Kampung Kepatihan Meten Surakarta. Putra kelima dari perkawinan Karjasoedarma dan Soepijah. Mereka adalah abdi dalem Kraton Surakarta.
Dari Surakarta, keluarga Karjasoedarmo pun pindah tempat tinggal ke Wirogunan, Yogyakarta. Soegija kecil sekolah di Sekolah Rakyat di Ngabean. Pindah lagi ke Sekolah Rakyat Pakualaman. Lalu pindah lagi ke HIS Wirogunan. Di HIS Wirogunan inilah, Soegija mengenal Rm F van Lith SJ., yang datang ke Yogyakarta untuk mencari murid yang mau melanjutkan sekolah di Muntilan.
Tahun 1909, Soegija masuk sekolah di Muntilan. Dan, pada 24 Desember 1909 Soegija dibaptis dengan nama permandian Albertus. Tahun 1910, Soegija melanjutkan sekolah di Kweekschool voor Javaanse Onderwijneers, sekolah ini baru saja dibuka waktu itu.
Soegija lulus ujian penghabisan di Kweekschool dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut pada tahun 1915. Setelah menjadi guru, tahun 1916, Soegija menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang imam.
Tahun 1919, Soegija Berangkat ke Belanda untuk belajar di Gymnasium, Leiden yang diasuh para imam ordo Salib Suci. Setahun berikutnya, tahun 1920, masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariendaal, setelah ada ijin khusus dari pembesar Serikat Jesus, karena Soegija menjadi katolik setelah dewasa.
27 September 1922, Soegija mengucapkan Triprasetya dalam Serikat Yesus. Seusai belajar filsafat di Berchmans College, Ondenbosch, Fr. Soegija pulang ke Indonesia dan ditugaskan sebagai guru di Muntilan tahun 1923. Selama di Muntilan ini Fr. Soegija juga aktif di bidang pers sebagai redaktur majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swara Tama. Tahun 1928, Berangkatlah Soegija ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Setahun kemudian, tahun 1929, untuk pertama kalinya pergi ke Roma menghadap Paus Pius XI bersama-sama dengan empat orang Jesuit dari Asia lainnya. Pada tanggal 25 dan 26 Mei 1931, Soegija resmi menerima tahbisan subdiakonat dan diakonat di Maastricht.


Sinopsis


Film SOEGIJA ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.


Review


Pujian patut dihantarkan kepada Garin dan juga crew yang sukses membawa SOEGIJA ke layar lebar untuk orang Indonesia kita semua pada umumnya dan Umat Katolik pada khususnya. Jalan cerita yang dipadu dengan beberapa kalimat yang berkesan cukup bermakna pada akhirnya bagi para penonton yang menyaksikannya. Meski efek-efek perang dan tembakan yang dihasilkan tidak sehebat THE RAID dan trilogi kemerdekaan, yang terpenting dari film ini adalah pesan yang ingin ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa Kemanusian itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-susul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan, dan cara hidupnya, semuanya merupakan satu keluarga besar, seperti yang dikatakan oleh Romo Soegija.
Jika boleh dianalisis mengenai alur ceritanya, 30 menit pertama film terasa sangat lamban sekali bercerita. Lalu setelah itu film baru bisa berpacu dengan keadaan. Berdasarkan kisah nyata sudah cukup untuk menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. Dan baru kali ini saya melihat antusias penonton begitu besar terhadap film Indonesia setelah THE RAID.
"Beliau adalah seseorang yang konsisten dan memiliki integritas untuk memimpin umat dengan rasa kemanusiaan dan kejujuran serta keikhlasan di masanya," kata Sri Sultan usai menyaksikan film tersebut di Yogyakarta, Kamis.

Untuk para pemainnya, Nirwan Dewanto bisa memahami betul karakter seorang Soegija jadi tidak ada kritikan yang terlalu buruk baginya karena sudah cukup baik memerankan sosok Soegija. Hanya saja satu kekurangan dari deretan pemain yang ada. Para pemain yang digunakan terlalu banyak, jadi ada beberapa pemain yang diminimalkan penggunaannya dan bahkan ada beberapa pemain yang hilang di tengah-tengah hingga akhir tidak muncul lagi. Mungkin ini adalah salah satu akibat dari penggunaan banyak pemain sehingga film hanya berfokus pada pemeran-pemeran utama saja. Di sisi lain, keterkaitan alur cerita dengan para pemain yang ada boleh dibilang agak tidak sesuai. Soegija yang seharusnya menjadi 'Main Actor' pada film ini boleh dibilang hanya mendapat jatah 40% dari 100% porsi film. Dari menit ke menit film terus menampilkan beberapa karakter yang begitu banyak yang memungkinkan juga bagi penonton untuk lupa dan bahkan tidak pernah tahu keberadaan pemain tersebut di film. Rata-rata film berfokus pada karakter Mariyem yang diperankan oleh Annisa Hertami Kusumastuti. Semoga ini menjadi pelajaran bagi Garin ke depannya untuk lebih memaksimalkan pemain-pemain dengan jalan cerita yang dibentuk agar tidak keluar terlalu jauh dengan koneksi antara pemain dengan latar belakang cerita sebuah film.


[SPOILER ALERT!] Yang sungguh disayangkan mungkin adalah akhir dari film ini. Tidak dijelaskan apa penyebab Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ meninggal dunia, meski mungkin ada beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tapi ada baiknya sebuah film memberikan sebuah akhir yang jelas bagi para penonton awam agar tidak meninggalkan kesan menggantung terhadap sebuah film.

Secara keseluruhan film berjalan baik dan yang paling saya suka dari film ini adalah aspek pengambilan gambar dan sound yang ada baik dan cukup menawan serta nyanyian dari paduan suara dan dari musik latar yang enak dan pas untuk didengar. Jadi sesuai tagline film ini, SOEGIJA - 100% INDONESIA. 100% KATOLIK. Tontonlah dan ambillah pesan-pesan yang sangat berharga dan bermakna bagi kita semua. Tuhan memberkati. Amin.

Rating:
Cerita: 8/10
Pemain: 5/10
Gambar: 7/10
Sound: 7/10
Ending: 5/10
Overall: 6/10

Tidak ada komentar:

Oz: The Great and Powerful

Oz: The Great and Powerful