Jack The Giant Killer
Jumat, 15 Juni 2012
Kamis, 14 Juni 2012
Review: The Flowers Of War ~ One Little Love Can Make A Million Hopes
Genre: Drama, History
Director: Zhang Yimou
Cast: Christian Bale, Paul Schneider, Ni Ni, Xinyi Zhang, Tong Dawei, Atsurô Watabe, Tianyuan Huang
Running Time: 146 Minutes
Synopsis:
Kisah pembantaian di daerah Nanjing di China, yang melibatkan pasukan Jepang membunuh ribuan warga China pada tahun 1937. Christian Bale akan memainkan imam Amerika bernama John yang membantu sejumlah besar kematian pelarian Cina tertentu. Sebuah cerita yang menyentuh tentang sebuah pengorbanan dan pengertian akan cinta dan kasih sayang selalu membuahkan sebuah harapan baru untuk dibangun dan dibentuk kembali.
Review:
Zhang Yimou adalah salah satu sutradara favorit saya dari asia setelah ada Ang Lee dan Akira Kurosawa. Film-film besutan Yimou seperti Hero, House of Flying Daggers, Curse of the Golden Flower dan yang terakhir adalah The Flowers of War selalu masuk dalam nominasi di ajang-ajang bergengsi dunia seperti Oscar dan Golden Globe. Jadi tak perlu diragukan lagi kemampuan Yimou dalam memoles film-film yang sudah matang di tangannya. Begitu pun juga dengan para penonton yang tidak asing dengan namanya. Sudah pasti film layak tonton dan berkualitas yang jadi hasilnya di tangan Zhang Yimou dan pastinya memuaskan.
Film-film berdasarkan kisah nyata seperti The Flowers of War memang selalu menyita perhatian publik dan tentunya para kritikus. Tantangannya adalah apakah sang sutradara dapat menyampaikan kejadian yang sesungguhnya dari kejadian yang akan dipresentasikan ke dalam frame-frame yang siap dibentuk. Zhang Yimou menjawabnya dengan baik sekali. The Flowers of War memiliki alur cerita yang mudah untuk diikuti, mungkin bagi sebagian orang sudah mengetahui kejadian nyatanya, tapi bagi orang awam ikuti saja jalan ceritanya karena memang mudah untuk diikuti. Unsur drama yang ada sangat kental sekali. Adegan yang memancing emosi para awal-awal film, semuanya berubah menjadi isak tangis di pertengahan film hingga akhir. Penonton dapat merasakan sendiri emosi yang ada dalam film ini ketika John, peran yang diperankan oleh Christian Bale, muncul pertama kali hingga masuk ke dalam Gereja tempat perlindungan para pengungsi yang ada di sana. Emosi yang tadinya meluap-luap seakan diperparah dengan kehadiran para wanita asal Nan Jing yang seolah-olah patut dihargai dan mendapatkan tempat terbaik. Tapi bukan Zhang Yimou namanya kalau tidak bisa mengejutkan penonton. Emosi yang sudah dibentuk hingga pertengahan film, lenyan begitu saja ketika para tentara jepang mendominasi area tersebut. Sebuah adegan yang benar-benar tragis dan dramatis. Tidak heran banyak penonton meneteskan air mata kala menyaksikan adegan per adegan yang diciptakan Zhang Yimou mulai dari pertengahan film hingga akhir. Salah satu adegan yang cukup menguras air mata ada ketika tentara jepang menyerbu gereja tempat perlindungan anak-anak. Maaf saya tidak bisa cerita. Dan bahkan mengingat saja sudah cukup membuat emosi dan menangis dalam hati. Belum lagi adegan terakhir pada film yang menurut saya pribadi adalah adegan terhebat dalam film ini. Meski adegan tersebut hanya sebuah dialog dan tindakan, bukan action atau perang, tapi benar-benar menyentuh dan mengharukan. Sebuah pengorbanan selalu memunculkan sebuah pengharapan pada akhirnya.
Efek-efek yang ditampilkan pada adegan perang, meski hanya beberapa, juga tampil maksimal mengingat Yimou pernah mengarsiteki Andy Lau pada film House of Flying Daggers dan Jet Li pada film Hero.
Secara keseluruhan film ini berjalan sangat mulus walau mungkin alur cerita yang kadang mungkin berpindah adegan secara tiba-tiba tapi tetap bisa diikuti. Untuk kalian yang berencana menonton, siapkan saja sebungkus tissue karena dijamin akan terpakai. Tapi tetap bagi saya adegan akhir film, meski endingnya rada sedikit menggantung, adalah adegan paling bernilai emas bagi film ini, sebuah nilai plus bagi Zhang Yimou. Selamat menonton.
Rating:
Cerita: 8/10
Pemain: 7/10
Ending: 6/10
Overall: 7/10
Kamis, 07 Juni 2012
SOEGIJA ~ 100% INDONESIA 100% KATOLIK
"Jika para penduduk sudah merasa kenyang, biarlah Para Imam yang merasa kenyang paling akhir. Tetapi jika mereka merasa lapar, biarlah Para Imam yang pertama kali merasakan lapar."
"Ini adalah tempat suci. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dahulu kepala saya maka tuan baru boleh memakainya."
"Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka jika gagal untuk mendidik diri sendiri."
"Kemanusian itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-susul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan, dan cara hidupnya, semuanya merupakan satu keluarga besar,"
Ini adalah beberapa quote yang paling menyentuh dan berkesan yang disampaikan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. dalam film SOEGIJA karya Garin Nugroho. Dengan melibatkan 2.775 pemain dan 245 orang crew serta biaya produksi yang mencapai Rp 12 Miliar, SOEGIJA adalah film terbesar dan termahal yang pernah ditangani oleh sutradara yang juga membesut film Mata Tertutup dan Under The Tree ini.
Profil Singkat
Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ., atau lebih dikenal dengan Soegija. Lahir 25 November 1896 di Kampung Kepatihan Meten Surakarta. Putra kelima dari perkawinan Karjasoedarma dan Soepijah. Mereka adalah abdi dalem Kraton Surakarta.
Dari Surakarta, keluarga Karjasoedarmo pun pindah tempat tinggal ke Wirogunan, Yogyakarta. Soegija kecil sekolah di Sekolah Rakyat di Ngabean. Pindah lagi ke Sekolah Rakyat Pakualaman. Lalu pindah lagi ke HIS Wirogunan. Di HIS Wirogunan inilah, Soegija mengenal Rm F van Lith SJ., yang datang ke Yogyakarta untuk mencari murid yang mau melanjutkan sekolah di Muntilan.
Tahun 1909, Soegija masuk sekolah di Muntilan. Dan, pada 24 Desember 1909 Soegija dibaptis dengan nama permandian Albertus. Tahun 1910, Soegija melanjutkan sekolah di Kweekschool voor Javaanse Onderwijneers, sekolah ini baru saja dibuka waktu itu.
Soegija lulus ujian penghabisan di Kweekschool dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut pada tahun 1915. Setelah menjadi guru, tahun 1916, Soegija menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang imam.
Tahun 1919, Soegija Berangkat ke Belanda untuk belajar di Gymnasium, Leiden yang diasuh para imam ordo Salib Suci. Setahun berikutnya, tahun 1920, masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariendaal, setelah ada ijin khusus dari pembesar Serikat Jesus, karena Soegija menjadi katolik setelah dewasa.
27 September 1922, Soegija mengucapkan Triprasetya dalam Serikat Yesus. Seusai belajar filsafat di Berchmans College, Ondenbosch, Fr. Soegija pulang ke Indonesia dan ditugaskan sebagai guru di Muntilan tahun 1923. Selama di Muntilan ini Fr. Soegija juga aktif di bidang pers sebagai redaktur majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swara Tama. Tahun 1928, Berangkatlah Soegija ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Setahun kemudian, tahun 1929, untuk pertama kalinya pergi ke Roma menghadap Paus Pius XI bersama-sama dengan empat orang Jesuit dari Asia lainnya. Pada tanggal 25 dan 26 Mei 1931, Soegija resmi menerima tahbisan subdiakonat dan diakonat di Maastricht.
Film SOEGIJA ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert (Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.
Pujian patut dihantarkan kepada Garin dan juga crew yang sukses membawa SOEGIJA ke layar lebar untuk orang Indonesia kita semua pada umumnya dan Umat Katolik pada khususnya. Jalan cerita yang dipadu dengan beberapa kalimat yang berkesan cukup bermakna pada akhirnya bagi para penonton yang menyaksikannya. Meski efek-efek perang dan tembakan yang dihasilkan tidak sehebat THE RAID dan trilogi kemerdekaan, yang terpenting dari film ini adalah pesan yang ingin ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa Kemanusian itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-susul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan, dan cara hidupnya, semuanya merupakan satu keluarga besar, seperti yang dikatakan oleh Romo Soegija.
Jika boleh dianalisis mengenai alur ceritanya, 30 menit pertama film terasa sangat lamban sekali bercerita. Lalu setelah itu film baru bisa berpacu dengan keadaan. Berdasarkan kisah nyata sudah cukup untuk menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. Dan baru kali ini saya melihat antusias penonton begitu besar terhadap film Indonesia setelah THE RAID.
"Beliau adalah seseorang yang konsisten dan memiliki integritas untuk memimpin umat dengan rasa kemanusiaan dan kejujuran serta keikhlasan di masanya," kata Sri Sultan usai menyaksikan film tersebut di Yogyakarta, Kamis.
Untuk para pemainnya, Nirwan Dewanto bisa memahami betul karakter seorang Soegija jadi tidak ada kritikan yang terlalu buruk baginya karena sudah cukup baik memerankan sosok Soegija. Hanya saja satu kekurangan dari deretan pemain yang ada. Para pemain yang digunakan terlalu banyak, jadi ada beberapa pemain yang diminimalkan penggunaannya dan bahkan ada beberapa pemain yang hilang di tengah-tengah hingga akhir tidak muncul lagi. Mungkin ini adalah salah satu akibat dari penggunaan banyak pemain sehingga film hanya berfokus pada pemeran-pemeran utama saja. Di sisi lain, keterkaitan alur cerita dengan para pemain yang ada boleh dibilang agak tidak sesuai. Soegija yang seharusnya menjadi 'Main Actor' pada film ini boleh dibilang hanya mendapat jatah 40% dari 100% porsi film. Dari menit ke menit film terus menampilkan beberapa karakter yang begitu banyak yang memungkinkan juga bagi penonton untuk lupa dan bahkan tidak pernah tahu keberadaan pemain tersebut di film. Rata-rata film berfokus pada karakter Mariyem yang diperankan oleh Annisa Hertami Kusumastuti. Semoga ini menjadi pelajaran bagi Garin ke depannya untuk lebih memaksimalkan pemain-pemain dengan jalan cerita yang dibentuk agar tidak keluar terlalu jauh dengan koneksi antara pemain dengan latar belakang cerita sebuah film.
[SPOILER ALERT!] Yang sungguh disayangkan mungkin adalah akhir dari film ini. Tidak dijelaskan apa penyebab Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ meninggal dunia, meski mungkin ada beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tapi ada baiknya sebuah film memberikan sebuah akhir yang jelas bagi para penonton awam agar tidak meninggalkan kesan menggantung terhadap sebuah film.
Secara keseluruhan film berjalan baik dan yang paling saya suka dari film ini adalah aspek pengambilan gambar dan sound yang ada baik dan cukup menawan serta nyanyian dari paduan suara dan dari musik latar yang enak dan pas untuk didengar. Jadi sesuai tagline film ini, SOEGIJA - 100% INDONESIA. 100% KATOLIK. Tontonlah dan ambillah pesan-pesan yang sangat berharga dan bermakna bagi kita semua. Tuhan memberkati. Amin.
Rating:
Cerita: 8/10
Pemain: 5/10
Gambar: 7/10
Sound: 7/10
Ending: 5/10
Overall: 6/10
Rabu, 06 Juni 2012
Review: PROMETHEUS ~ When Big Things Come From A Small & Simple Idea
Genre: According to My Opinion, This Movie is Pure Sci-Fi
Director: Ridley Scott
Cast: Noomi Rapace, Logan Marshall-Green, Michael Fassbender, Idris Elba, Chralize Theron, Guy Pearce, Sean Harris
Running Time: 124 Minutes
Sebuah tim penjelajah menemukan petunjuk akan asal-usul umat manusia di Bumi, dan melakukan perjalanan menuju sudut-sudut paling gelap di alam semesta. Di sana, mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Dan apa yang mereka harapkan untuk ditemui sama sekali tidak ada di pikiran mereka. Semuanya berubah menjadi suatu hal yang mengerikan dan mustahil untuk menyelesaikan misi.
Review:
Pertama, jika kalian beranggapan kalau ini adalah film tentang Alien (vs. Human) yang siap bertarung dan menghancurkan segalanya, kalian salah besar. PROMETHEUS adalah sebuah film yang benar-benar PURE ber-genre Sci-Fi bukan Action ataupun Horror/Thriller. Di salah satu adegan film, Michael Fassbender yang berperan sebagai Robot Android berkata, "Big thing starts with a small thing". Setuju dengan kalimat ini. Secara ringkas, Ridley Scott mengandalkan ide kecil dan kuno untuk merancang PROMETHEUS yang boleh dikatakan terlalu bosan untuk disimak, tapi akhirnya Ridley membawanya menuju sesuatu yang lebih besar meskipun ide itu kecil dan sudah ada.
Banyak orang mungkin beranggapan kalau Ridley Scott sudah kehabisan akal untuk menggarap film ber-genre Sci-Fi. Orang-orang tentu akan selalu teringat dengan mahakaryanya Alien. Pengembangan proyek PROMETHEUS akhirnya dibanding-bandingkan dengan ALIEN. Apakah ini sebuah sekuel? Prekuel? Atau mungkin PROMETHEUS akan berdiri sendiri di luar ALIEN? Atau mungkin bahkan PROMETHEUS lebih mengembangkan cerita yang baru tetapi tetap menggunakan konsep yang sudah ada sebelumnya? Pada akhirnya Ridley berhasil memunculkan sebuah ide kecil yang bisa dikembangkan secara kreatif menjadi sebuah hasil yang beragam, seperti PROMETHEUS.
Alur ceritanya sebenarnya hampir sama dengan Alien dan gabungan beberapa film Sci-Fi yang sudah ada. Di awal akan diberikan penjelasan secara ilmiah dan apa hasil yang akan didapat dari pencarian tersebut. Dan selanjutnya baru kejadian-kejadian aneh terjadi. Kira-kira begitulah gambaran alur cerita film-film Sci-Fi, termasuk PROMETHEUS. Secara ilmiah, PROMETHEUS bisa ditangkap dengan jelas, hanya saja durasi yang hanya 124 menit dirasa kurang cukup untuk memberikan penjelasan secara keseluruhan. Dan sepertinya ada sekitar 30-45 menit adegan film yang dihilangkan. Jadi tunggu saja versi UNRATED dari PROMETHEUS dalam bentuk DVD yang mungkin akan memuat DELETED SCENE untuk memperjelas keseluruhan film.
Dari deretan para artis yang ada, nama Noomi Rapace jelas menjadi sorotan utama karena memerankan karakter paling penting. Berperan sebagai Elizabeth Shaw, aktris yang dikenal lewat Trilogy Millenium, The Girl With The Dragon Tattoo ini cukup bagus dalam memerankan sang dokter yang berusaha menemukan asal-usul manusia. Perubahan sifat yang dialaminya mulai dari yang bertampang lugu dan layaknya wanita muda menjadi seorang petarung yang tangguh dan seperti tidak percaya apa yang dialaminya patut mendapat kritik yang baik. Sayang Noomi belum bisa menghapus memori kita akan Ripley yang diperankan oleh Sigourney Weaver yang dijuluki Goddess of Alien dan Alien's Mom yang bermain dalam empat film pertama Alien yang bermain begitu luar biasa dan menawan.
Untuk para artis lainnya, mungkin hanya nama Charlize Theron yang berperan sebagai Vickers dan Michael Fassbender sebagai Robot Android David yang menyita perhatian karena mendapat porsi yang lumayan dalam film ini. Sedangkan peran lainnya seperti Logan Marshall-Green, Idris Elba dan Guy Pearce hanya sebagai peran pendukung.
Ada yang mengeluh tentang film ini karena tidak jelas atau mungkin apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam film ini. Dari sinopsis yang ada, film ini memberikan jawaban yang boleh dibilang agak menggantung walau akhirnya jawaban itu terjawab secara sederhana. Dan mungkin pertanyaan yang paling populer di publik adalah, Apa sebenarnya hubungan film PROMETHEUS dengan ALIEN? Semuanya akan terjawab pada akhir ending film ini.
Rating:
Cerita: 7/10
Pemain: 6/10
Ending: 7/10
Overall: 7/10
Selasa, 05 Juni 2012
Review: PROJECT X ~ Grow Doesn't Mean We Get Our Freedom
Genre: Documentary
Director: Nima Nourizadeh
Producer: Todd Philips
Cast: Thomas Mann, Oliver Cooper, Jonathan Daniel Brown, Brady Hender
Running Time: 112 Minutes
Synopsis:
Thomas berulang tahun yang ke-17 dan kedua sahabatnya, Costa dan J.B., berencana mengadakan pesta ulang tahun secara mewah dan besar-besaran di rumah Thomas. Berjanji pada kedua orang tuanya bahwa pesta akan berjalan lancar dan bagaimana seharusnya Thomas mempercayai segala sesuatunya kepada dua sahabatnya tersebut. Di tengah persiapannya Costa dan J.B. merujuk Thomas untuk terjun ke dunia di mana dirinya tidak lagi dipandang sebelah mata (Losers) di mata teman-teman sekolahnya. Maka dari itu mereka berencana mengikutkan unsur-unsur nakal, sebut saja para wanita cantik dan seksi, DJ, musik dengan suara keras, minuman keras dan bahkan ekstasi, ke dalam pesta tersebut. Pesta pun dimulai malam hari. Keadaan yang tadinya sudah kacau, diperparah lagi dengan kehadiran orang-orang tak dikenal yang ikut larut dalam pesta. Ini adalah sebuah dokumentasi di mana sebuah pesta yang diimpikan semua orang berubah menjadi suatu bencana bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya. Ini adalah sebuah film yang sangat tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur. Anjuran bagi para penonton agar dapat mengambil sisi positif dari film ini, bukan ceritanya.
Review:
Dua poin penting yang bisa kita tangkap sebelum menonton film ini:
1. Todd Phillips selalu membawakan film-film 'nakal' dan 'gila' di setiap script yang dirancangnya. Sebut saja dua film The Hangover, Due Date dan Old School.
2. Cukup melihat poster film dan trailer tanpa membaca sinopsis film, jalan cerita dan ending sudah bisa ditebak dengan mudah. Seberapa hancur pesta yang akan terjadi, semuanya sudah bisa ditebak lewat poster dan trailer.
Review gua sebenarnya singkat aja. Ini adalah film dokumenter yang sebenarnya punya dua sisi, yakni positif dan negatif.
(-) Bagi para penonton, terutama di kalangan muda, PROJECT X bisa jadi merupakan sebuah 'Inspirasi' bagi mereka yang ingin mengadakan pesta demi suatu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan.
(-) Bagi anak-anak, PROJECT X mengajarkan pada anak untuk mencoba sesuatu yang baru dalam hidup meski ada dampak buruknya.
(-) Bagi orang tua, PROJECT X bisa saja memancing para orang tua untuk memberikan kebebasan pada anak agar sang anak lebih dewasa.
(+) Film ini mencoba memperingatkan kita akan kedewasaan kita dalam hidup ini. Ada kalanya di mana kita semakin bertumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang lebih dewasa dan lebih menghargai keadaan sekitar.
(+) Film ini memberi pelajaran bagi kita bahwa menjadi seorang 'LOSERS' bukan berarti kita harus melakukan tindakan yang melampaui batas kemanusiaan. Menjadi seorang LOSERS dapat kita artikan bahwa itu adalah tantangan bagi kita bagaimana kita harus menjadi lebih dewasa lagi.
(+) Film ini mencoba memberi pelajaran bagi para orang tua untuk tidak terlalu memberikan kebebasan pada anak-anaknya dalam melakukan sesuatu. Jangan terlalu memanjakan anak dan menuruti setiap keinginannya. Ada kalanya anak juga harus tahu apa yang didapatkannya ketika melakukan sebuah tindakan.
(+) Film juga memberikan pengarahan bagi anak-anak, kaum muda dan para pelajar agar berperilaku sopan dan baik serta patuh pada perintah orang tua, menjauhi hal-hal yang memang sudah sepatutnya dijauhi.
(+) Dan yang terakhir quote yang bisa gua bikin untuk film ini, "Jangan pernah mencoba sesuatu yang sudah kita ketahui dampak buruknya bagi kita dan orang sekitar."
Terakhir, jika kalian beranggapan film ini adalah film dokumenter tergila dan terparah yang pernah kalian saksikan karena hal ini bisa saja terjadi, maka kalian telah terbawa larut ke dalam film ini.
Ambil SISI POSITIFNYA, bukan SINOPSISNYA!
Rating Overall: 5/10
Sabtu, 02 Juni 2012
[SPECIAL REVIEW]: 'MIRROR MIRROR' VS. 'SNOW WHITE & THE HUNTSMAN'. Who will claim the victory?
Pada tahun 2010, Tim Burton bekerja sama dengan Walt Disney Studio membawa novel dongeng 'Alice In Wonderland' ke layar lebar dengan dukungan para artis ternama seperti Johnny Depp, Anne Hathaway dan Helena Bonham Carter dan mencapai hasil yang memuaskan. Mencapai pendapatan lebih dari $1 Milyar di seluruh dunia. Melihat kesuksesan yang diraih oleh 'Alice In Wonderland', Studio Summit Entertainment membawa novel dongeng 'Red Riding Hood' pada tahun 2011 ke layar lebar dan dinahkodai oleh Catherine Hardwicke, sutradara yang berhasil melejit namanya lewat film Twilight. Tahun 2012 hal ini berlanjut lewat novel 'Snow White' karangan Grimm. Tidak tanggung-tanggung dua film siap beradu di layar lebar dengan cerita 'Snow White'. 'Mirror Mirror' arahan Tarsem Singh lebih mengedepankan sisi komedi layaknya dongeng-dongeng untuk menghibur para penonton, sedangkan 'Snow White and the Huntsman' lebih mengedepankan sisi kelam dari cerita 'Snow White' itu sendiri dan dibawa ke arah action/adventure dengan sentuhan mistik layaknya 'Alice in Wonderland' dicampur dengan 'Lord of the Rings'. Hasilnya? Itulah yang akan coba dibawa pada pembahasan kali ini. Jadi mari kita simak, 'Snow White' mana yang lebih unggul? Lily Collins dan Julia Roberts dalam 'Mirror Mirror'? Atau Kristen Stewart dan Chralize Theron lewat 'Snow White and the Huntsman'?
SYNOPSIS
Dari segi jalan cerita, pasti hampir semua penonton sudah mengetahuinya karena ceritanya sudah cukup terkenal dan tak asing lagi. Klasik dan menarik itulah yang bisa dikatakan ketika kita membaca jalan cerita sebuah dongeng. Tapi dua versi 'Snow White' yang ditayangkan pada tahun ini memiliki jalan cerita yang berbeda walau dengan latar belakang yang sama. Berikut jalan ceritanya masing-masing.
MIRROR MIRROR
Diceritakan Snow White (Lily Collins) hidup bersama sang ratu jahat (Julia Roberts) di istananya setelah sang ibu meninggal ketika melahirkannya dan sang ayah yang dikutuk oleh sang ratu ketika berpergian ke Dark Forrest. Sang ratu kemudian memimpin istana dengan memeras harta rakyatnya dengan menaikkan harga pajak. Snow White yang tidak tinggal diam berencana melawan dan mengembalikan semua harta milik rakyat. Tapi hal itu diketahui oleh sang ratu ketika pesta dansa. Lalu Snow White diusir ke Dark Forrest dan diperintahkan untuk dibunuh. Dengan diusirnya Snow White, sang ratu merencanakan pernikahan dengan sang pemuda dari Valencia bernama Alcott (Armie Hammer) yang pernah ditemui Snow White di Dark Forrest. Snow White yang terlanjur jatuh cinta dengan Alcott dan mendengar kabar pernikahannya dengan sang ratu, kembali ke istana untuk menggagalkan rencana pernikahan tersebut bersama 7 orang kurcaci yang ditemuinya di Dark Forrest. Sang ratu pun tidak tinggal diam, dengan rencana yang telah diatur bersama 'Imposter' lewat kaca yang dimilikinya, sang ratu berencana menghancurkan Snow White hingga tercapai keinginannya termasuk mempertemukannya kembali dengan sang ayah yang telah dikutuk menjadi monster. Tapi pada akhirnya Snow White berhasil mengalahkan sang ratu dan memimpin kerajaan bersama sang ayah dan tentunya pria idamannya , Prince Alcott.
SNOW WHITE & THE HUNTSMAN
Cerita berawal dari sepasang raja dan ratu memimpin sebuah kerajaan. Sang ratu kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Snow White. Sayangnya sang ibu kemudian meninggal setelah melahirkan Snow White. Lalu melihat anaknya yang dirundung kesepian dan ketidakyakinan sang ayah melihat Snow White untuk memimpin kerajaan ke depannya, sang ayah mencari pendamping hidupnya yang baru. Kemudian ditemukanlah seorang wanita oleh sang ayah bernama Ravenna. Maka dinikahkannya Ravenna (Charlize Theron) dan menjadi pendamping raja di istana. Sayangnya Ravenna ternyata adalah seorang penyihir. Pada suatu malam sang raja dibunuh dan kemudian Ravenna mengirim seluruh pasukannya ke dalam istana dan mengambil alih kekuasaan dalam waktu singkat. Snow White yang masih kecil ketika itu akhirnya dikurung di sel di tower istana yang memaksanya harus berpisah juga dengan William, sahabatnya. 10 tahun lamanya Snow White (Kristen Stewart) dikurung di dalam sel tahanan tersebut sampai suatu saat dirinya berhasil kabur dari istana dan melarikan diri ke Dark Forrest. Queen Ravenna kemudian menyuruh salah satu pemburu di desanya bernama Eric, The Huntsman (Chris Hemsworth), untuk mencarinya di Dark Forrest dengan imbalan bahwa Ravenna akan menghidupkan kembali istrinya. Dan ternyata tidak butuh waktu lama bagi Eric untuk menemukan Snow White karena dirinya sudah sangat mengenal hutan tersebut. Tahu kalau ini semua hanya akal-akalan dari sang ratu, alih-alih menangkap Snow White, Eric malah melindunginya hingga membawa Snow White kembali bertemu dengamn Prince William (Sam Claflin). Dengan berkumpulnya semua pasukan yang ada, Snow White bersama William dan Eric beserta para kurcaci yang ditemuinya di dalam hutan, kembali ke istana untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ravenna pun tidak tinggal diam. Berkomunikasi dengan kaca yang dimilikinya, dirinya tahu bahwa satu-satunya jalan meraih kekuasaan penuh dan juga membuat dirinya abadi adalah dengan membunuh Snow White. Ravenna pun akhirnya bersiap menyambut kehadiran Snow White yang bersiap menyerbu istananya. Sayangnya semuanya sia-sia karena pada akhirnya kekuasaan Ravenna pun jatuh di tangan Snow White yang sudah diramalkan oleh para penduduk setempat. Dan akhirnya Snow White pun meneruskan warisan sang ayah untuk memimpin kerajaan ke depannya.
REVIEW:
Kalau dilihat dari jalan cerita, keduanya boleh dibilang sama-sama 'Salah' jika membandingkan dengan dongen aslinya. Tapi kalau dinilai secara sudut pandang film, jelas Snow White & The Hunstman lebih unggul karena lebih mengembangkan cerita yang tadinya sudah ada. Sedang Mirror Mirror lebih mengedepankan sisi kreatif sang scriptwriter dengan mengambil latar belakang yang sama persis dengan dongeng Snow White.
MIRROR MIRROR:
(+) Unsur komedi yang ada di sini cukup baik
(-) Cerita yang sedikit beragam cenderung aneh dan membosankan
SNOW WHITE & THE HUNTSMAN:
(+) Jalan cerita yang dikembangkan dari versi aslinya cukup berhasil dibawa ke layar lebar
(-) Cerita yang penuh dengan adegan kelam dan cukup serius akhirnya memaksa penonton untuk terus ikut menaikkan tensi pada saat menonton
THE CASTS
Snow White, Evil Queen dan Prince William adalah tiga orang utama dalam dongen klasik Snow White. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi Studio Perfilman untuk mengembangkan dan menambah para pemain baru untuk mendukung jalan cerita yang dirangkai masing-masing. Siapa saja mereka? Mari kita simak.
~SNOW WHITE VS. SNOW WHITE - Lily Collins Vs. Kristen Stewart~
Dari segi akting, Kristen Stewart memang jauh lebih unggul dibanding Lily Collings. Peran Snow White berhasil diperankan dengan baik oleh Kristen yang sangat menjiwai peran tersebut. Adegan sedih, duka, senang dan serius berhasil dilewatinya dalam film Snow White & the Hunstman. Lily Collins bisa dikatakan hanya mendapat nilai 'Cukup' lewat peran Snow White yang dimainkannya. Dengan mengedepankan unsur komedi, peran Lily Collins sebagai Snow White terasa lebih terlihat serius dibanding harus melucu pada film ini. Tapi satu keunggulan yang dimiliki oleh Lily, yakni paras cantiknya memang pantas mengenakan gaun Snow White tersebut.
~EVIL QUEEN VS. QUEEN RAVENNA - Julia Roberts Vs. Charlize Theron~
Julia Roberts cukup berhasil melucu sebagai Evil Queen pada Mirror Mirror walau akhirnya dinilai kurang maksimal oleh para kritikus. Tapi, Charlize Theron memuaskan para penonton lewat perannya sebagai Queen Ravenna yang kejam, keji dan iri hati. Emosional yang dimainkannya pada peran Ravenna cukup memukul telak Evil Queen versi Julia Roberts. Charlize, you totally win for this one!
~PRINCE ALCOTT VS. PRINCE WILLIAM - Armie Hammer Vs. Sam Claflin~
Siapakah itu Prince Alcott? Dia adalah karakter karya Tarsem Singh pada film Snow White menggantikan Prince William untuk menjadi Love Interest Snow White. Sayangnya Prince Alcott yang diperankan oleh Armie Hammer kurang terasa di mata para penonton dalam mendalami perannya. Hal ini juga mungkin diakibatkan karena Mirror Mirror terjun ke versi komedi ketimbang versi yang lebih serius. Sam Claflin memainkan Prince William, Love Interest dari Snow White, pada film Snow White & the Huntsman. Hasilnya cukup baik walau banyak yang menilai porsi William sangat minim pada film ini karena terlalu didominasi oleh sang Huntsman, Eric yang diperankan oleh Chris Hemsworth. Kharisma yang dibangun oleh kedua karakter ini boleh dikatakan kalau Mirror Mirror lebih berhasil memainkannya dengan baik lewat Lily Collins dan Armie Hammer ketimbang Kristen Stewart dan Sam Claflin karena meski Mirror Mirror lebih mengedepankan unsur komedi, romance yang ada di film ini lebih terasa dibanding Snow White & The Huntsman yang lebih mengedepankan unsur Action/War.
~FREEDOM FOR THE HUNTSMAN (CHRIS HEMSWORTH)~
Tidak adanya penambahan karakter baru pada film Mirror Mirror selain Prince Alcott coba dimanfaatkan oleh Snow White & The Huntsman. Eric The Huntsman yang diperankan oleh Chris Hemsworth mencoba memberikan rasa baru dalam film. Hasilnya ternyata cukup beragam. Ada yang menganggap ini adalah hal positif dan juga negatif. Mari kita analisis.
(+) Kehadiran The Huntsman memberikan rasa baru pada film Snow White dan drama di dalamnya lebih terasa. Pertolongannya dalam membantu Snow White menghancurkan dominasi Evil Queen lebih terasa dan terlihat hebat di mata penonton dengan sentuhan adegan-adegan perang yang dihadirkan.
(-) Banyak dari kita yang sudah terlanjur dengan romansa yang ada antara Snow White dan Prince William. Dengan munculnya Eric The Huntsman anggapan hadirnya orang ketiga pun muncul. Dan ada juga yang menganggap bahwa Eric-lah yang menjadi Love Interest dari Snow White bukan William.
So, what do you think guys?
Berapa total para kurcaci pada dongen Snow White yang sebenarnya? Ya, benar. Ada 7 kurcaci. Tarsem Singh membawa mereka pada film Mirror Mirror dan boleh dikatakan berhasil memberikan porsi para kurcaci ini untuk berhubungan dengan Snow White dengan tingkah lakunya yang konyol, lucu dan juga tangguh.
Tapi apa jadinya jika kurcaci tersebut memiliki satu personil tambahan? Rupert Sanders membawa 8 orang kurcaci ke dalam filmnya, Snow White & The Huntsman, untuk memperbaharui cerita. Hasilnya cukup memuaskan. Para kurcaci tersebut mendapatkan porsi yang lumayan besar di filmnya hingga pertarungan akhir. Kalau boleh dibandingkan, Dwarf yang ada di Mirror Mirror lebih lucu dan konyol tapi Dwarf pada Snow White & The Huntsman terasa lebih lincah, kompak dan tangguh.
Tapi apa jadinya jika kurcaci tersebut memiliki satu personil tambahan? Rupert Sanders membawa 8 orang kurcaci ke dalam filmnya, Snow White & The Huntsman, untuk memperbaharui cerita. Hasilnya cukup memuaskan. Para kurcaci tersebut mendapatkan porsi yang lumayan besar di filmnya hingga pertarungan akhir. Kalau boleh dibandingkan, Dwarf yang ada di Mirror Mirror lebih lucu dan konyol tapi Dwarf pada Snow White & The Huntsman terasa lebih lincah, kompak dan tangguh.
COSTUME
Pasti sudah terbayang dibenak kita bagaimana rupa kostum seorang Ratu, Putri dan Pangeran yang sudah ada sebelum-sebelumnya. Besar, mewah, cantik, anggun dan lain-lain.
MIRROR MIRROR
Kostum pada Mirror Mirror lebih menggambarkan sosok seorang Snow White, Evil Queen dan Sang Pangeran yang ada pada dongen aslinya. Kostumnya beragam dan warna-warni dan terkesan pas untuk dikenakan pada film seperti ini. Lily Collins terlihat cantik ketika mengenakan gaun putih ketika dirinya diusir ke hutan. Tapi sayangnya peran Evil Queen tidak sesuai dengan kostum yang dikenakan oleh Julia Roberts yang terlihat layaknya putri manis dan baik.
SNOW WHITE & THE HUNTSMAN
Jika Mirror Mirror memiliki kostum yang cerah, maka Rupert Sanders memberikan warna gelap dan kelam pada kostum yang dikenakan oleh para karakternya lewat Snow White & The Huntsman. Layaknya film Lord of the Rings. Ya itulah yang terbayang pertama kali ketika melihatnya. Salah satu kostum yang patut mendapat acungan dua jempol adalah seluruh kostum yang dikenakan oleh Queen Ravenna yang berhasil diperankan oleh Charlize Theron. Kesesuaian kostum yang kelam dan terasa aura 'Evil' yang ada membuat Queen Ravenna layaknya benar-benar Evil Queen di dunia ini.
COMPUTER GRAPHICS
MIRROR MIRROR
Inilah yang menjadi kekurangan pada Mirror Mirror. Grafis dan efek-efek yang sangat kasar terlihat jelas sekali pada film ini terutama ketika memperlihatkan latar pemandangan istana dari kamar Evil Queen yang terkesan Wallpaper Desktop Komputer.
SNOW WHITE & THE HUNTSMAN
Bagus dan cukup memukau. Ya grafis yang ditampilkan cukup memuaskan. Mulai dari sosok makhluk dari Mirror, perubahan Ravenna menjadi burung-burung hingga Troll dan efek-efek yang ada di Dark Forrest dan Hutan Perlindungan. Semuanya terasa seperti nyata.
-OVERALL-
Jadi secara keseluruhan kedua film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda bagi para penonton. 'MIRROR MIRROR' dapat ditonton bersama keluarga dan teman-teman Anda jika ingin melepaskan stress karena unsur komedi yang menghibur. 'SNOW WHITE & THE HUNTSMAN' bisa Anda saksikan bersama keluarga dan teman-teman Anda bagi yang ingin menyaksikan versi gelap dari Snow White yang boleh dikatakan baru. Jadi tidak ada salahnya menyaksikan kedua film ini yang cukup menarik dan beragam.
Tapi kalau disuruh memilih mana yang terbaik, gua akan lebih memilih 'SNOW WHITE & THE HUNSTMAN'. Mengapa?
1. Snow White dibawa ke versi layaknya Alice In Wonderland + The Lord Of The Rings adalah sesuatu yang baru bagi film-film adaptasi dongeng yang terkesan hanya menghibur dan layaknya Bedtime Story. Apa jadinya kalau dibawa ke versi yang gelap dan kelam. Penasaran pastinya dan menjadi suatu hal yang baru. Dan harapan gua Alice In Wonderland juga bisa lebih dibuat 'Madness' seperti ini.
2. Grafis dan efek komputer yang ditampilkan jauh lebih bagus ketimbang Mirror Mirror. Adegan-adegan yang ada di Snow White & The Huntsman didukung dengan grafis komputer yang memukau.
3. Peran Charlize Theron sebagai Queen Ravenna membuat gua memasukkan namanya ke dalam tokoh antagonis favorit tahun ini.
RATING
MIRROR MIRROR
Cerita: 6/10
Pemain: 5/10
Kostum: 7/10
Grafik: 5/10
Ending: 6/10
Overall: 6/10
SNOW WHITE & THE HUNTSMAN
Cerita: 6/10
Pemain: 6/10
Kostum: 7/10
Grafik: 8/10
Ending: 6/10
Overall: 7/10
~HT~
~HT~
Langganan:
Postingan (Atom)
Oz: The Great and Powerful




















.jpg)






















